Mengenang Hari Pertama di Pesantren

Hampir 29 Tahun silam aku dilahirkan didunia ini. Diberi nama Nur Ahmad, orang tuaku memberikan pengharapan besar bagiku kelak. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang kurang mampu, tapi tipe pekerja keras, ditambah pesilat, plus berjiwa organisatoris, orang tuaku membawa referensi pengalaman yang bermacam-macam di pikiran masa kecilku. Bapak yang berkecimpung dalam dunia GP Ansor sejak muda, selalu terngiang-ngiang dalam benakku, betapa seragam hijau dan jaket loreng Bansernya, begitu gagah dalam imajinasiku. Dunia organisasilah yang juga mendekatkan keluargaku dalam dunia pesantren, yang di kemudian hari menjadi lingkungan hidupku selama 13 tahun.

Perjalananku mengarungi kedewasaan dimulai pada Tahun 2003, dimana selepas lulus SD, aku masuk dalam sebuah pesantren. Yah, sejak kecil orang tuaku memang telah menghembuskan pemikiran kepesantrenan di pikiranku, sehingga tumbuh dalam alam bawah sadarku bahwa masuk pesantren adalah sebuah panggilan hati. Tidak ada laku shalat istikharah atau laku spiritual apapun karena memang itulah kemantapanku. 

Pertengahan Tahun 2003, aku resmi masuk di Pondok Pesantren di sebuah pelosok daerah sub urban di daerah Kauman, Nanggulan. Langkahku mantap diiringi Bapak, Mamak, dan Simbah Kakung-ku, dihaturkan pada Kyai Ihsan Asyhari (pengasuh pesantren) beserta seluruh ubo rampenya. Sekardus pakaian baru, beberapa makanan ringan, almari, sepeda butut kecil kesukaanku, semua tertata rapi dalam pick up yang dikemudikan oleh Pak Tris Klangon, merupakan bekal pertamaku disana. Dikasih sama Bapak ku, lembaran merah 100rb-an merupakan pengalaman pertamaku pegang uang sebesar itu, bukan main girangnya. Uang yang harapannya dibuat uang saku selama sebulan itu, selalu kupandangi dan kubayangkan betapa kaya diriku dengan uang itu. Sebuah pemikiran anak kecil pada waktu itu. 

Pada waktu aku masuk pesantren, santri putra maupun putri berjumlah sekitar 28-an orang. Segera setelah ditinggalkan di pesantren tersebut, Kyai menyuruhku untuk mendiami kamar nomor 12, dengan ketua kamarnya Kang Kelik. Kang Kelik inj merupakan Lurah Pondok pada waktu itu, yah semacam jabatan prestisius-lah di kalangan santri mukim....dan dikemudian hari ku ketahui bahwa sebagian besar pengurus ternyata berambisi dengan jabatan itu ternyata. wkwkwk.....

Malam Rabu Pon, sebuah malam yang berbeda dari malam-malamku yang lain. Biasanya malamku kuhabiskan dengan tertawa riang bersama teman-teman sebaya di masjid kampungku ketika magrib sampai isyak, dengan main ala anak-anak sehabis mengaji magrib, diteruskan dengan nonton tv sepulangnya sampai larut malam kemudian tidur. Lain halnya dengan malam itu, malam itu aku memulai malamku dengan menjalankan aktifitas sembahyang magrib jamaah di mushala pesantren lalu dilanjutkan mengaji Al Quran bersama Romo Yai. Berduduk melingkar mengelilingi Romo Yai, para santri sambil menunggu giliran, menghabiskan waktunya sambil mendaras kitabnya. Selepas membaca Ummul kitab bersama-sama selaku pembuka pengajian, tiba-tiba Romo Yai memanggilku, "Kang Cilik mriki!"....Mak Deg jantungku berdebar-debar. Sebuah julukan yang akan menjadi privilage-ku selama 2 tahun kedepan sebelum digeser oleh santri kecil lain dari Kalimantan berjuluk si Aam. 

Romo Yai menanyaiku, "riyin ngaos e pun dugi nopo kang cilik?" dengan nada ringan nan ramah...."nate katam quran mbah yai" jawabku. "Coba dibuka kitab e"....lalu kubuka kitabku, "coba diwaos"....lalu kubaca Surat Alfatihah dengan perlahan-lahan sampai selesai. Tanpa menyela maupun menyalahkanku, tiba-tiba Romo Yai memerintahkan kepadaku, " Kang Cilik wacan-e wis apik, sesuk ngajine karo Kang Sali kidul nika njih!" ...."Njih Mbah Yai" jawabku. Merasa sudah selesai, akupun pindah ke sisi selatan menghadap kepada guru baruku yang bernama Kang Sali yang belakangan kuketahui bernama Saliwanto itu. Belakangan kuketahui ternyata Romo Yai memujiku dihadapan Orang tuaku ketika menjenguk selepas beberapa hari hari di pesantren itu tentang bagusnya bacaanku. Oh iya, sebagai tambahan, memang ada semacam aturan tak tertulis bahwa santri baru harus tinggal di pesantren minimal 40 hari tidak boleh pulang maupun dijenguk oleh keluarganya. Sebenarnya memang ada kerinduan mendalam pada keluarga selama 40 hari itu, betapa aku merasakan perasaan seperti dibuang dan diasingkan. Cobaan memang....dan celakanya aku dijenguk selepas 142 hari oleh kedua orang tuaku. Pecah tangis haru dan bahagia ketika dijenguk pertama kali itu. 

*****

(Bersambung)


Komentar