Kenangan di Bangku SMP

Pagi itu serasa dingin sekali, serasa menusuk tulang belulangku. Tidur di lingkungan yang masih terasa asing bagiku, ditambah lagi baru di musim kemarau panjang dengan malam yang dingin menggigit. Brrrrrr....sungguh suatu cobaan berat. Coba kubenahi selimutku dengan harapan mataku segera memejam kembali. 

Belum jadi aku terlelap, terdengar suara-suara langkah kaki mendekat dan menggedor-gedor pintu kamar. Drrrrr.....Drrrrrr....Drrrrr....."Tangi-tangi, ayo tangi mujahadah kang".......kubuka mataku lalu ketengok jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Menjadi kebiasaan di pesantrenku bahwa satu jam sebelum subuh digunakan untuk sembahyang tahajud dan mendaras Al Quran sampai adzan subuh. Baru saja kubangun dari tempat rebahanku, sudah terdengar muadzin melantunkan azan awal, pertanda sembahyang tahajud segera dimulai. 

Segera aku beranjak dari kamar dan bersama santri yang lain mengambil air wudhu di kolam bawah dan bergegas menuju mushola, "takut keduluan Romo Yai" kata beberapa santri yang takut kehilangan berkah itu. Sampai di mushola sudah berjejer rapi santri-santri senior, sambil melantunkan pujian singkat "ilahi lastu lil firdausi....." secara bersama-sama. Aku teringat jika melantunkannya, nadanya jadi kurang baik karena suaraku baru terjadi peralihan pita suara. Maklumlah, usia peralihan menuju dewasa wkwkwk. Romo Yai rawuh dan segera melaksanakan rutinitas, "Assolatu jami'ah" dan kamipun bermakmum kepada beliau sampai selesai. 

Adzan Subuh berkumandang satu jam setelahnya, lalu kamipun segera melaksanakan sembahyang subuh berjamaah. Wiridan pagi itu serasa nyaman sekali hingga kepalaku berkali-kali tertelungkup seiring dengan kepala yang bergeleng-geleng ketika melantunkan tahlil," La ilaha illallah....." bahkan kulirik ada juga yang sampai mendengkur. Kuingat santri senior bernama Kang Rahmat, sambil diiringi lantunan tahlil, menyelanya dengan dengkuran ringan..."grrrrrr.....grrrrr", humanis sekali wkwkwk.

Senandung syair arab bergema selepas subuh di pesantren kami. Beberapa kelas nahwu, bersahut-sahutan menyenandungkan syairnya masing-masing dengan irama dan nada yang berbeda-beda. Syair-an arab tersebut di pesantren kami disebut dengan nadzoman. Berbeda dengan kelas kami di Ibtida' (Pemula) yang masih bingung dan malu-malu kucing. Kang Trisilo merupakan guru (korek) kami di kelas Ibtida' ini. Beliau dengan tlaten membacakan matan kitab Ta'limul Muta'allim dan artinya kata demi kata. Tanpa ada pengetahuan yang mendasar tentang tata cara penulisan arab, kamipun menulis sebisanya mengejar keterangan dari korek kami. Aksara cacing, begitulah para santri senior menjuluki tulisan para santri pemula ini, karena memang dengan gaya masing-masing, jujur kami baru bisa menulis tapi tidak bisa membacanya kembali. Jadi bisa ditebak, ketika selesai membacakan matan kitabnya, dan korek kami menyuruh kami membaca ulang satu persatu, maka banyak dari kami-pun dihukum dengan cara berdiri selama pelajaran. Mujur bagiku, karena pada waktu itu aku bisa membacakan ulang matanku. Bukan karena kepandaianku sih, tapi karena kecuranganku dalam menulisnya tidak memakai aksara arab tapi aksara latin hehehe.....lancar jaya dalam membacakannya. Pagi itu hanya aku sendiri yang terbebas dari hukuman berdiri, karena yah.....kelicikanku wkwkwk. 

Selesai pengajian pagi, aku bersiap untuk mempersiapkan keperluan sekolahku. Pada waktu itu, hanya ada aku satu-satunya santri putra yang sekolah SMP, yang lain ada beberapa yang SMK, sedangkan santri lainnya rata-rata tidak bersekolah, sehingga mengisi kegiatannya dengan bekerja serabutan. Mandi dengan kamar mandi yang sangat besar, diisi beberapa santri sekaligus, kami pun mandi bersama-sama......telanjang tentu saja. Secepat kilat aku menyelesaikan mandiku lalu segera berganti seragam baruku. Celana pendek 10 cm diatas lutut, baju putih, berdasi dan topi biru, merupakan seragam pertamaku memasuki bangku SMP. Oh iya, aku melanjutkan pendidikanku di luar lingkungan pesantren, tepatnya di SMP N 1 Nanggulan...yah jaraknya sekitar 5 menit perjalanan kaki. 

Masuk di lingkungan SMP, pertama kali kami para murid baru dikumpulkan dalam sebuah kumpulan besar untuk briefing pengenalan. Setelah mendapatkan pengarahan, aku masuk dalam kelas 7A, sedangkan kelas favorit adalah kelas 7C. Kuingat ada 32 murid masuk dalam kelas 7A termasuk diriku. Wali Kelasku adalah seorang guru laki-laki berpostur tinggi, agak botak, berkulit kecoklatan natural dengan senyum menawan dan ramah bernama Drs. Wibowo. 3 hari pertama juga merupakan pengalamanku merasakan masa orientasi bernama MOS (Masa Orientasi Siswa) dengan kegiatannya diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah dan perkenalan lebih dalam dengan sesama murid, baik sesama kelas maupun antar kelas. 

Dihari kedua, kumelihat salah satu murid cewek berkerudung warna coklat kemerahan, tinggi sedang, agak kurus, dengan senyum menawan, yang belakangan kuketahui bernama Marfidah. Murid ini ternyata juga satu pesantren di Kauman juga, santri baru juga. Pertama kali itu dalam sejarah hidupku, ketika melihat lawan jenis, aku merasakan sensasi aneh. Memang sih pada waktu itu, aku baru dalam masa pubertas, sehingga banyak perubahan fisik maupun karakter mulai berubah dalam diriku. Sensasi itu sulit untuk digambarkan, sebuah perasaan tertarik, jantung berdebar-debar, bahkan seakan-akan aku meleleh ketika melihatnya. Sebuah jatuh cinta kah? Aku pun tak tahu, karena itu baru pertama kalinya aku melihatnya. 

Selama kelas 7, aku jarang berinteraksi dengan murid bernama Marfidah itu. Aku agak intens bertemu dengannya ketika menginjak kelas 8. Kelas 8 ini lokasinya  di pojok barat, dekat dengan mushola sekolah. Pada waktu itu, di suasana istirahat sekolah, tumben sekali langkah kakiku menuntun sampai perpustakaan sekolah. Suasana agak ramai karena memang beberapa murid ada yang mulai terbiasa hobi membaca. Bersama 2 teman yang lain, aku mengelilingi rak mencari buku-buku yang menarik untuk dibaca. Belum juga aku selesai, terdengar sapaan dari seberang, dan ketika kutengok, mak tratabbbbbbb....ternyata Marfidah yang menyapaku. Sensasi aneh kembali timbul, waktu seakan-akan berjalan pelan, bahkan anginpun seakan-akan berhenti berhembus hingga leherku terasa kering untuk menelan ludah. Aku tercekat dalam keadaan itu. "Hey...." sapanya. Berdiri disampingnya seorang murid cewek juga yang menyertainya dengan malu-mau kucing. "surat go kowe mad, diwoco yo" tambahnya lagi. Ternyata dia sudah tahu namaku, bahkan menyebutku dalam akronim nama terakhir. Kuterima sepucuk surat bersampul pojokan merah jambu yang diberikannya. Aku sangat canggung ketika itu, bahkan ketika menjawabnya pun, sambil terbata-bata...."emmm...eh....ok matur nuwun" jawabku. Keduanya lalu keluar dari perpustakaan itu, meninggalkan aku yang berdiri terbengong, seakan belum sadar dengan kejadian barusan.

"apakah aku menerima surat cinta dari Marfidah?" pikirku.

Kuselipkan surat itu dalam saku celana pendekku. Perasaanku campur aduk ketika itu, pikiran pun bercampur-campur dengan berbagai bayangan yang menggelanyut. Kubaca surat itu selepas sekolah, tidak langsung menuju pesantren, tapi aku berjalan ke sisi selatan dimana banyak persawahan disitu. Duduk dibawah bayang-banyang pohon sambil beristirahat menanti angin sepoi-sepoi, kubaca surat tadi, alamak......bukaannya surat dari Marfidah, tapi ternyata surat dari orang lain yang bernama Siti Nurrohmah. Surat itu ditujukan khusus untukku dan dia menyatakan cintanya padaku. Yah memang kadang pikiran kita memang agak melenceng dari ekspektasi kita wkwkwk.

Kubalas surat itu dengan gaya tulisan formal, dan kuberikan keesokan harinya. Tahu bahwa suratnya berbalas tolakan, tangispun pecah dari si Siti ini. Aku tahu keadaaanya ketika dicritakan oleh ketua kelasku, si Kharisa Vitasasi yang ternyata juga sahabat karibnya si Siti ini. Buru-buru kutulis surat permohonan maafku kepadanya dan menjelaskan alasan teknis ala ala orang berjiwa besar padanya wkwkwk. Kejadian malang juga terjadi padaku, ketika surat dari si Siti ini tidak terbakar sepenuhnya ketika kucoba memusnahkannya, malah ditemukan oleh keamanan pesantren. Keamanan bernama Kang Imam Syafei menyidangku habis-habisan dan memvonisku dengan membersihkan tempat sampah raksasa di samping makam. Hmmmmm....ciloko mencit batinku. Kejadian itu selalu terngiang bagiku karena dari kejadian itu aku bisa lebih tahu murid bernama Marfidah ini. Entah kenapa aku jadi sangat suka, bahkan bisa disebut terobsesi dengan murid ini. Keadaan ini hanya ku simpan sendiri tanpa ada orang lain yang tahu, berbekal pengetahuan sufi pesantren, aku sangat bimbang apakah aku harus mengatakan perasaanku padanya ataukah kusimpan saja sendiri.

3 Tahun berjalan di SMP, hingga sampailah di penghujung tahun ajaran ketiga dan aku pun lulus. Berbekal nilai NEM yang sebenarnya tinggi pada waktu itu, sebenarnya banyak yang menyarankaku untuk melanjutkan di SMA/K favorit, tapi entah pada waktu itu aku juga mendapatkan info bahwa si Marfidah ini akan melanjutkan pendidikannya di MAN 2 Wates, jauh sekali sebenarnya dari lokasi pesantrenku, sekitar 40 menit perjalanan bus jurusan Magelang-Wates. Hatiku juga mengekor langkahnya dengan mendaftarkan diri ke MAN 2 Wates juga. Belakangan dia pindah di pesantren dekat dengan sekolah MAN ini, Pesantren Pesawat Wates namanya, sedangkan aku tetap bertahan di pesantren kesayanganku Kauman ini. 

*******

(Bersambung)

Komentar