Pesantren adalah Jiwaku

Tahun Pertama mengenyam dunia pesantren, aku menempati kelas Ibtida'. Kelas yang berisi 8 santri, dengan beberapa mata pelajaran, diantaranya akhlak sehabis subuh, tajwid sehabis asar, quran sehabis magrib, dan ketauhidan sehabis isya'. Aku menginta beberapa kitabku yang kubeli dari koperasi pesantrenku, yakni Ta'limul Muta'allim, Sifaul Jinan, Yasin kecil, dan Aqidatul Awwam. Aku juga membeli beberapa buku tulis dan pulpen pilot standar sebagai keperluan pendukung. Selain itu ada yang membuatku terbelalak adalah harga sebuah pulpen bernama hi.tech 0.3 yang berharga 13 ribu per satu batangnya. Agak menggerutu juga pada waktu itu mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayarnya. Penjaga koperasi ini pada waktu itu adalah seorang santri senior, dengan muka agak masam bernama Kang Agus Wahyudi. 

Kubawa beberapa belanjaan ini ke kamarku, kamar 12. Sebuah kamar yang tertata rapi dengan penduduk ada 5 santri senior didalamnya. Aku yang dititipkan di kamar pengurus ini, lama kelamaan agak sungkan juga dan pada akhirnya minta pindah. Ada sosok santri senior yang selalu ramah padaku, namanya Kang Bukhori. Beliau ini sosok yang dulu sebelum aku nyantri di sini, pernah berkunjung kerumah sowan kepada bapakku, dan belakangan ku ketahui bahwa dia pernah meminta ijazah doa khusus kepada bapakku, sehingga ketika dia sangat care padaku, aku juga maklum. Politik balas jasa-lah pikirku hehehe. Aku ditawari satu kamar dengan Kang Bukhori ini, di kamar 15. Sebuah kamar yang berada di ujung sendiri, dekat dengan makam, diatas dapur santri, sehingga suasananya agak panas. Untung saja didalam kamarnya dibuatkan semacam lincak dari bambu, sehingga mengurangi rasa pengap ketika dapur bawahnya digunakan untuk mamasak. 

2 tahun aku didampingi oleh Kang Bukhori ini, sampai suatu ketika, dia pamitan untuk menjadi musafir bersama santri senior lainnya bernama Kang Basirun. Belakangan aku mengetahui bahwa, beberapa santri senior menempuh laku sufi dengan menjadi musafir selepas mengkhatamkan ngajinya. Kurikulum pesantren kami merujuk pada kurikulum pesantren Tegalrejo, Magelang sehingga kelas terakhir adalah Ihya' Ulumuddin, yang jika normal bisa ditempuh dalam waktu 10 tahun. Pada waktu itu, Kang Bukhori bersama temannya berangkat menggunakan sepeda butut tua yang kondang dinamai sepeda unta. Keduanya memutuskan untuk menempuh laku musafir ini dengan rute mengelilingi pulau jawa dengan tanpa bekal uang saku atau bahan makanan apapun. Memang kesan nekat bisa kita katakan, tapi memang laku ini mensyaratkan untuk tidak membawa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat di badan ataupun kendaraan. Latihan tawakkal, begitulah niatnya...dan memang ndilalah ketika niat mantep memang rejeki akan datang tanpa dinyananyana. 2 minggu kemudian Kang Bukhori bersama temannya kembali lagi ke pesantren ini, dan ketika kutanyai ternyata mereka sudah menempuh perjalanan mengelilingi pulau jawa, dan berziarah di 9 walisongo. Ketika kutanya, "yuk iso mangan ora kang?" Tanyaku sambil terkekeh, "hla kok ming mangan, hla iki hlo malah oleh dwit barang, iso dinggo tuku oleh-oleh iki ya mbuh gak ruh teko-teko enek wong ngenei neng dalan" jawabnya. Hmmm..rejeki min haitsu la yahtasib memang nyata pemirsa.

*****

(Bersambung)

Komentar